Jumat, Mei 16, 2008
Untuk Para Elite Politik, Berilah Kami Suri Tauladan
Bila kita bicara tentang reformasi, lekat ingatan kita tentu pada sosok Amien Rais. Ya, dia memang motor penggerak reformasi yang puncaknya dapat menggulingkan rejim Soeharto yang memerintah negeri kita tercinta selama tiga decade lebih.
Bahkan, Amien Raislah pemegang kendali roda pemerintahan sejak reformasi, bila kita tak sungkan menyebutnya demikian. Jabatan tertinggi dalam pengelola negara adalah sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipilih secara aklamasi dalam sidang majelis. Tentunya kita masih ingat, saat ia menurunkan pemerintahan Abdurrahman Wahid dan secara fantastic mengangkat Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden Republik Indonesia. Tak salah bila Amien Rais disamakan dengan lirik lagu tempo dulu, ‘kau yang mulai kau yang mengakhiri..’ Namun demikian, ada sisi yang kurang mengenakkan dalam diri Amien Rais, yaitu cara bicaranya caplas-ceplos yang kadang menyakitkan. Wajar saja, bila Ketua PB NU Andi Jamaro baru saja meminta agar para elite politik, termasuk Amien Rais agar berpolitik dengan elegan dalam usaha mencapai target-target politiknya. Jangan sampai uswatun khasanah atau teladan akan menjadi hilang. Hal ini disebabkan, cara Amien Rais mencaci atau menjelek-jelekkan orang lain. Pernyataan tersebut untuk menanggapi sikap sosok Amien Rais yang menyebutkan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan sebutan Kolo. Kolo yang bernama lengkap Betoro Kolo adalah tokoh jahat raksasa dalam pewayangan dari Khayangan merupakan sumber angkara murka yang ditakuti manusia. Memang, seorang tokoh sekaliber Amien Rais seharusnya tidak menyatakan pendapat yang menjelekkan nama seseorang, apalagi pemimpin negara yang dipilih langsung oleh rakyat. Pilihan-pilihan kata dan kalimat yang dikeluarkan, seharusnya tepat dan santun, terutama dalam berdialog. Bila Amien Rais menyebutkan seperti itu, maka menunjukkan ia tidak dewasa dalam berpolitik. Mesti belajar tentang kearifan berpolitik. Elite politik seharusnya menyadari, bahwa pergantian kepemimpinan adalah sebuah proses yang wajar. Peralihan kekuasaan dari suatu partai ke partai lain dalam memimpin Indonesia tercinta juga hal yang wajar. Karena itu, ketika tidak memimpin, seharusnya bisa menahan kata-kata dalam berbicara. Kekecewaan terhadap pemimpin jangan diluapkan dengan kata-kata yang tidak baik. Hal itu cerminan betapa bangsa kita dipimpin oleh elite-elite yang menjadi suri tauladan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar