
Jakarta, Suara Indonesia News – Tugas-tugas TNI AL sebagai komponen utama pertahanan negara di laut, mempunyai fungsi penegakkan hukum di laut, penegakkan kedaulatan negara di laut, pengembangan kekuatan matra laut dan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.
Hal itu disampaikan Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Laksma TNI Marsetio MM pada saat memberi pengarahan kepada jajaran Lantamal IV, para Komandan Satuan, serta Komandan KRI yang ada di Pulau Bintan, tentang zero accident dalam rangka menghadapi Latgab TNI tahun 2008, Senin (12/5) di Aula Yos Sudarso Mako Lantamal IV Batu Hitam, Tanjungpinang, Kepri.
Dikatakan, selaku komando pelaksana dukungan operasi yang memberikan dukungan logistik dan administrasi satuan operasi TNI AL, yakni KRI, pesawat udara dan marinir. Lantamal IV juga melaksanakan operasi keamanan laut di wilayahnya selaku satuan tugas keamanan laut dan tugas lain pembinaan potensi maritim, SAR, serta bakti sosial.
Lebih lanjut Danlantamal IV mengatakan bahwa pengarahan dilaksanakan dalam rangka menghadapi Latgab TNI tahun 2008, agar seluruh jajaran Lantamal IV mempersiapkan diri untuk mendukung pelaksanaan Latgab TNI tersebut.
“Seperti kita ketahui bersama, empat bulan terakhir banyak kejadian atau kecelakaan yang menimpa TNI baik material maupun personel, khususnya di lingkungan TNI AL, yakni, kecelakaan KRI, pesawat udara dan kendaraan tempur marinir, yang mengakibatkan kerugian material dan personel," katanya.
Ia menegaskan, upaya-upaya TNI AL dalam menghadapi Latgab TNI tahun 2008, antara lain melakukan sertifikasi kelaikan unsur-unsur baik KRI, pesawat udara dan kendaraan tempur marinir agar tidak terjadi kerugian personel dan material.
Selain itu Danlantamal IV menjelaskan, faktor yang mempengaruhi kecelakaan selama ini antara lain faktor teknis, alam dan manusia. Untuk teknis, faktor yang mempengaruhi adalah usia Alutsita dan anggaran terbatas, faktor alam dipengaruhi oleh cuaca, medan dan musuh.
Sedangkan faktor manusia dipengaruhi profesionalisme prajurit. “Sikap mental prajurit yang membenarkan kebiasaan, malu bertanya dan merasa sudah tahu harus ditinggalkan jauh-jauh,” jelas Laksma TNI Marsetio.
Ditambahkan oleh Laksma TNI Marsetio, zero accident merupakan hasil yang dicapai suatu pekerjaan yang tidak menimbulkan kerugian personel maupun material. “Untuk menghindari terjadinya kecelakaan dapat diperoleh melalui identifikasi resiko, analisa resiko, dan rencana menghadapi resiko, serta arah dan kendali resiko,” paparnya.
Upaya menuju zero accident diperlukan persiapan yang benar dan perencanaan yang detail. Dimengerti seluruh unsur dan individu yang terlibat. Kegiatan sesuai prosedur keamanan yang telah ditetapkan. Kendali dan kontrol atasan, serta profesionalisme prajurit mutlak diperlukan, sehingga tidak ada kerugian personel dan material.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar